Anak Muda di China Kok ‘Ogah’ Nikah Ya? Begini Analisisnya…

People burn incense sticks to pray for good fortune at Lama Temple, in Beijing, China April 22, 2023. REUTERS/Tingshu Wang 

Foto: REUTERS/TINGSHU WANG

Jakarta, CNBC Indonesia – Hari kasih sayang di China, Festival Qixi, adalah waktu yang dinilai tepat dan menguntungkan bagi pasangan untuk menikah. Festival yang dirayakan setiap hari ketujuh di bulan tujuh dalam kalender lunar ini adalah perayaan cinta antara kekasih yang bernasib sial, yakni Zhinu dan Niulang dalam mitologi China.

Baca: Mycoplasma Pneumonia Diduga Picu Penyakit Misterius di China

Melansir dari Al Jazeera, kantor pencatatan pernikahan di Mianyang, Provinsi Sichuan, memutuskan untuk merayakan festival yang tahun ini jatuh pada 22 Agustus dengan menyiarkan secara langsung upacara pencatatan pernikahan.

Namun, ada satu masalah dalam perayaan kali ini, yakni hanya sedikit pasangan yang datang menikah. Akhirnya, siaran yang awalnya ditujukan untuk merayakan hari kasih sayang itu terpaksa dihentikan.

Berkaitan hal tersebut, pemerintah kota setempat membantah laporan bahwa hampir tidak ada pernikahan yang dicatatkan pada hari istimewa tersebut. Namun, bantahan tersebut “terlambat” karena aula pencatatan pernikahan yang kosong di Mianyang sudah terlanjur viral di media sosial China. Fenomena ini pun menjadi bukti menurunnya angka pernikahan di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Para Pemuda Ogah Menikah, China Mulai “Krisis”
Data resmi menunjukkan bahwa angka pernikahan di China menurun drastis. Pada 2013 silam, jumlah orang yang menikah adalah sekitar 13,5 juta pasangan. Namun, pada 2022 lalu angka tersebut turun menjadi hanya 6,8 juta.

Tidak hanya itu, data juga menunjukkan bahwa masyarakat China rata-rata menikah lebih lambat, angka perceraian meningkat, dan jumlah orang yang memilih untuk melajang semakin meningkat.

Pada Mei 2023 lalu, lebih dari 20 kota di China membuat sebuah proyek yang bertujuan untuk mempromosikan pernikahan.

Agustus lalu, salah satu daerah di Provinsi Zhejiang mengumumkan bahwa pemerintah menawarkan hadiah uang bagi pengantin baru. Syaratnya, pengantin perempuan harus berusia 25 tahun atau lebih muda.

Selain itu, para pejabat juga secara terbuka mendorong masyarakat untuk menikah dan memiliki anak di “usia yang tepat”. Tidak hanya itu, budaya populer di China juga telah disesuaikan, yakni dengan cara acara TV dan gaya fesyen yang berpusat pada edukasi pentingnya menikah.

Jessica Fu dari Guangzhou percaya bahwa perhatian yang diberikan pada pernikahan ada hubungannya dengan tujuan pemerintah untuk meningkatkan angka kelahiran di negara tersebut.

“Memiliki anak sebagian besar terjadi dalam pernikahan di masyarakat China,” kata Fu.

Diketahui, angka kelahiran di China telah menurun seiring dengan menurunnya angka pernikahan, hal ini menjadi sebuah dinamika yang dapat memicu terjadinya krisis demografi di China.

Namun penekanan yang ada saat ini pada ikatan suami-istri, insentif pemerintah untuk menikah, dan tren budaya pop yang mempromosikan kebahagiaan dalam pernikahan belum dapat meyakinkan Fu.

“Saya tidak menyukai dampak pernikahan terhadap orang-orang di China,” kata Fu.

Kekhawatiran Para Pemuda di China tentang Pernikahan
Para pemuda di China mengaku bahwa pernikahan tidak sesuai dengan kehidupan modern mereka.

“Pernikahan seperti sekarat di China. Memikirkan untuk menikah membuat saya dan pasangan menjadi lebih stres, bukan bahagia” ujar warga China, Yu Zhang (26), dikutip Selasa (5/12/2023).

Hal ini menjadi perhatian khusus bagi China. Sebab, pemerintah sebenarnya telah melakukan kebijakan yang mendorong pasangan untuk menikah dan terdapat ekspektasi tradisional masyarakat China mengenai pernikahan.

Para pemuda di China menilai bahwa tiga tujuan pernikahan, yakni menyatukan dua keluarga, membeli rumah, dan memulai sebuah keluarga, adalah hal yang tidak realistis.

“Ibu saya dan orang tuanya tidak saling menyukai, properti tidak bagus, dan terlalu mahal untuk memiliki anak,” kata Zhang.

“Jika kami harus mulai membayar rumah dan mempunyai anak, kami tidak akan punya waktu atau uang untuk hal-hal seperti itu lagi (makan di restoran dan liburan),” kata Zhang.

Sementara itu, Fu mengaku, salah satu alasan utamanya untuk tidak menikah adalah berkaca dari pernikahan orang tua. Fu mengatakan, orang tuanya hidup tidak bahagia dan ingin bercerai. Namun, mereka tidak melakukannya karena cerai dianggap sebagai hal yang memalukan di China.

“Kemudian sepupu saya yang menikah baru-baru mendapat banyak tekanan dari suami dan mertuanya. Ia diminta untuk meninggalkan kariernya dan menjadi perempuan tradisional China,” kata Fu.

Meskipun demikian, Fu mengatakan bahwa dia ingin memiliki pasangan yang bisa diajak berbagi kehidupan, tetapi tidak menikah.

Ekspektasi Budaya Tradisional Jadi Penyebab Utama
Dosen senior Studi Tiongkok dan Asia di Universitas New South Wales Australia, Pan Wang, mengatakan bahwa munculnya pilihan pribadi telah mengubah dinamika pernikahan dalam masyarakat China.

“Kehidupan pernikahan hanyalah salah satu dari banyak pilihan gaya hidup saat ini,” ujar Wang.

Wang mengatakan, “perekonomian tunggal” di China yang menawarkan segalanya, mulai dari pembelian rumah dan peralatan rumah tangga, pengalaman kuliner, hiburan untuk para lajang, hingga paket perjalanan solo, dirancang khusus untuk individu.

Sebelumnya, memilih untuk tidak menikah bukanlah suatu pilihan bagi sebagian orang di China. Sebab, banyak perkawinan yang diatur oleh orang tua dan keluarga. Bahkan, tidak jarang para tetua masyarakat, manajer tempat kerja, atau lembaga turut terlibat dalam perjodohan.

“Untuk generasi sebelumnya, cinta dan pernikahan adalah urusan kolektif dan bukan pilihan pribadi,” kata Wang.

Namun, meningkatnya fokus pada pendidikan bagi laki-laki dan perempuan pada tahun 1990an atau ketika China melakukan liberalisasi dan modernisasi, ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengubah masyarakat China secara drastis.

Kebijakan satu anak di China yang berlaku sejak 1980 hingga 2015 dinilai mendorong keluarga-keluarga yang secara tradisional lebih memilih anak laki-laki demi memusatkan perhatian, aspirasi, dan sumber daya pada anak tunggal mereka. Namun, anak yang kebanyakan lahir adalah perempuan.

Dalam masyarakat China, generasi perempuan baru tumbuh dengan tekad bersekolah setinggi-tingginya demi memasuki perekonomian China dan mampu bersaing untuk mendapatkan peluang dan sumber daya.

Kini, perempuan China sudah mampu menciptakan ruang baru bagi diri mereka sendiri dan mencapai tingkat keamanan finansial. Sebelumnya atau pada generasi lama, hal tersebut hanya dapat dicapai perempuan melalui pernikahan

“Dulu, pernikahan merupakan hal utama dalam kehidupan, tetapi sekarang tidak lagi menjadi hal yang penting,” kata asisten profesor di Universitas Nasional Singapura, Mu Zheng.

Zheng mengatakan bahwa meskipun kebijakan pemerintah dan pertumbuhan ekonomi mengubah keadaan ekonomi dan pilihan hidup yang tersedia bagi laki-laki dan perempuan, norma-norma budaya China tidak berubah dengan cepat.

Laki-laki maupun perempuan masih diharapkan untuk bekerja keras di luar struktur keluarga, sementara peran gender masih tetap ada di dalam struktur tersebut. Dengan demikian, perempuan diharapkan menjadi ibu dan istri yang baik, sementara laki-laki masih dipandang sebagai pencari nafkah utama.

Menurut Zheng, ekspektasi tersebut terasa terbatas pada generasi muda saat ini, sementara peran gender dapat membuat sebagian perempuan dan laki-laki enggan menikah.

Pemuda di China, Yuan Xu berpendapat bahwa ekspektasi masyarakat Tiongkok terhadap generasi muda tidak realistis.

“Ketika saya mendengar dari keluarga dan pejabat pemerintah bahwa saya harus menikah di usia yang tepat dan menjadi istri dan menantu yang baik, saya menjadi sangat stres,” kata Xu.

Xu yakin bahwa tekanan masyarakat dan ekspektasi tradisional tidak hanya membuat generasi muda menjauh dari pernikahan, tetapi juga berisiko membuat pernikahan menjadi “tidak berfungsi”.

Angka Pengajuan Cerai di China Meroket, Pemerintah Lakukan Ini
Beberapa waktu belakangan ini, sisi gelap dari pernikahan di China mulai terungkap. Kasus kekerasan dalam rumah tangga yang “brutal” meningkat dan menarik banyak perhatian publik.

Dalam beberapa kasus, para perempuan alias istri terluka parah atau bahkan dibunuh oleh suami karena mereka sedang mengajukan permohonan atau berencana untuk mengajukan cerai.

Dilaporkan, selain menurunnya jumlah perkawinan, angka perceraian juga meningkat di China dalam satu dekade terakhir, meskipun pemerintah China cenderung menolak banyak permohonan cerai.

Demi mencegah perceraian impulsif, pada 2021 lalu Pemerintah China memperkenalkan periode “penenangan diri” wajib selama 30 hari bagi pasangan yang ingin bercerai.

Xu mengatakan, https://bagaimanacaraya.com kebijakan 30 hari pemerintah tersebut adalah upaya untuk memaksa pasangan untuk tetap bersama.

“Dan itu adalah alasan lain mengapa lebih baik tidak menikah sama sekali,” tegas Xu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*