Netanyahu Diserang Banyak Tokoh Penting Israel, Siapa Saja?

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi Jalur Gaza, selama gencatan senjata sementara antara Hamas dan Israel, dalam selebaran yang diperoleh Reuters pada 26 November 2023. (Tangkapan Layar Video Reuters/GPO) 

Foto: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi Jalur Gaza, selama gencatan senjata sementara antara Hamas dan Israel, dalam selebaran yang diperoleh Reuters pada 26 November 2023. (Tangkapan Layar Video Reuters/GPO)

Jakarta, CNBC Indonesia – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu akhir-akhir ini menemui banyak tekanan. Ini terkait dengan caranya mengatasi krisis yang terjadi di negara itu sesaat setelah mengibarkan bendera perang kepada milisi Gaza Palestina, Hamas, pada 7 Oktober lalu.

Kondisi ini pun membuat tekanan padanya muncul dari dalam negeri Israel. Dalam laporan Reuters, publik Israel telah mengamuk kepada beberapa menteri di kabinet Netanyahu dan menyalahkan mereka karena gagal mencegah serangan Hamas di Israel 7 Oktober lalu, yang menewaskan 1.200 orang, menculik 240 orang lagi dan melanda negara itu dalam perang.

Dalam insiden terpisah, setidaknya tiga menterinya menjadi sasaran cemoohan dan pelecehan ketika mereka tampil di depan umum, yang menggarisbawahi besarnya kemarahan publik atas kegagalan yang membuka jalan bagi Hamas untuk melakukan serangan tersebut.

PILIHAN REDAKSIIslamofobia Melanda Eropa, 10 Negara Teriak!Perang Gaza Lanjut, Gencatan Senjata Israel-Hamas BubarTak Ada Gencatan Senjata Baru Hamas-Israel, Gaza Mencekam

Penulis biografinya, Anshel Pfeffer, mengatakan Netanyahu kemungkinan besar kesulitan untuk mengambil kuasa kembali pascaserangan Hamas 7 Oktober dan perang di Gaza.

“Dia sekarang ternoda oleh kegagalan mencegah pembantaian 7 Oktober, oleh strateginya sendiri yang membiarkan Hamas tetap memegang kendali, dengan persenjataan militernya, di Gaza,” ujarnya dikutip Senin (27/11/2023).

Penulis buku “Bibi: The Turbulent Life and Times of Benjamin Netanyahu” yang terbit pada tahun 2018, mengatakan bahwa survei dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa Israel mempercayai lembaga keamanan untuk memimpin upaya perang, tetapi tidak mempercayai Netanyahu.

“Kegagalan pada 7 Oktober adalah warisannya. Keberhasilan apa pun yang diraih Israel setelahnya tidak akan dianggap berasal darinya,” tambah Pfeffer.

Tekanan Mundur

Di Israel, tekanan pun mulai ditunjukan oleh para politisi senior. Tercatat, tiga mantan PM telah meminta Netanyahu untuk turun takhta.

Dalam sebuah wawancara, mantan PM Israel Ehud Barak mengatakan bahwa Netanyahu tidak memiliki kepercayaan dari rakyat Israel maupun tentara menyusul serangan dahsyat yang dilakukan Hamas.

“Saya tidak percaya masyarakat mempercayai Netanyahu untuk memimpin ketika dia berada di bawah beban peristiwa dahsyat yang baru saja terjadi pada masa jabatannya,” katanya kepada Observer.

“Netanyahu harus mengundurkan diri sekarang. Pemerintahannya tidak berfungsi.”

Senada dengan Barak, mantan PM lainnya, Yair Lapid, telah meminta Netanyahu untuk mundur “segera”. Menurutnya, Netanyahu tidak akan mampu lagi memimpin kampanye negara itu melawan Hamas.

“Netanyahu harus segera pergi… Kita butuh perubahan, Netanyahu tidak bisa tetap menjadi PM,” kata Lapid pada hari Rabu dalam sebuah wawancara dengan saluran berita Israel.

“Kami tidak bisa membiarkan diri kami melakukan kampanye jangka panjang di bawah PM yang telah kehilangan kepercayaan masyarakat.”

Mantan PM lainnya, Ehud Olmert, juga ikut buka suara memberikan penentangan pada Netanyahu. Ia mengatakan pemimpin saat ini merupakan bahaya bagi Israel dan berpendapat bahwa tujuan mereka seharusnya adalah melanjutkan perundingan yang mengarah pada pembentukan negara Palestina.

“(Netanyahu) telah menyusut. Dia hancur secara emosional, itu sudah pasti. Maksudku, sesuatu yang buruk terjadi padanya. Bibi (panggilan Netanyahu) telah bekerja sepanjang hidupnya dengan alasan palsu bahwa dia adalah Tuan Keamanan. Ia Tuan Omong kosong,” katanya.

“Setiap menit dia menjadi PM, http://sayurkana.com dia merupakan bahaya bagi Israel. Aku sungguh-sungguh bersungguh-sungguh. Saya yakin orang Amerika paham bahwa dia berada dalam kondisi yang buruk.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*